Jumat, 24 Februari 2012

Bertahajud Agar Sukses : Kisah Sang Pedang Malam

Islam menaklukkan eropa, dipimpin oleh seorang pemuda yang sangat saleh, berusia 21 tahun. Namnya Muhammad Al Fatih kesuksesan hidup ia raih, dikenang jutaan manusia sepanjang abad. Harum nama Al Fatih berkat keshalehan, keberanian dan kemuliaan akhlaknya. Umurnya muda remaja semerbak wangi, 21 tahun. Sebagai jenderal beliau memimpin laskar islam menaklukkan benteng terkuat imperium Byzantium, Konstantinopel. Kota ini diubahnya menjadi kota Istambul. Dari sini beliau menebarkan kasih sayang islam di bumi eropa.

Jika saudara bertanya siapakah yang berjasa sehingga kini benih islam tumbuh di jantung eropa, seperti Bosnia, Herzegovina, misalnya? Jawabanya, sejarah tak pernah melupakan jasa orang orang turki yang gagah berani. Diantaranya Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun.

Apa rahasia dibalik semua kesuksesan beliau? Ternyata rahasianya beliau sangat kuat shalat malamnya yaitu tahajud. Bukankah Rasululloh SAW menegakkan shalat tahajud sepanjang malam dan setiap hari? Bukankah beliau Rasululloh SAW shalat tahajud merupakan kewajiban yang tak bisa beliau tinggalkan dalam setiap perjuanganya.

Jika sudara bertanya, apakah benar Muhammad Al Fatih sudah melakukan tindakan besar yang megubah sejarah peradaban dunia? Ya, dalam sejarah, hal ini tidak aneh. Bukankah sahabat Rasululloh SAW bernama Usamah juga menjadi panglima perang dalam usia 18 tahun. Sementara yang menjadi prajuritnya adalah Umar bin Khatab sahabat besar Rasulullah SAW. Ini menunjukkan betapa kualitas keimanan dan kekuatan ruhani Usamah menjadi salah satu ukuran yang dipertimbangkan Rasulullah SAW ketika menetapkan Usamah memimpin ekspedisi militer menghadapi kekuatan super power Romawi?
 
Bukankah dalam usia 17 tahun Ibnul Khatab, warga saudi arabia, (sebelum akhirnya menjadi komandan lapangan di ladang jihad Chechnya, dan menggapai syahid dalam usia 35 tahun April 2002) menerjunkan diri dengan teguh hati ke medan jihad Afghanistan dan mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah di Universitas terkemuka di Amerika.

Namun Sang Pedang Malam, orang asia bernama Muhammad Al Fatih merontokkan super power Romawi pada 1453, agak unik. Beliau ahli shalat malam (tahajud), ahli qiyamul lail. Beliau selaLu kontak dengan energi terbesar di alam semesta ini, Allah SWT. Beliau selalu taqorrub, mendekatkan diri kepada Allah SWT, The Big Boss of Universe.

Sejak kecil Muhammad Al Fatih dididik oleh seorang wali. Beliau tumbuh menjadi remaja yang memiliki kepribadian unggul. Beliau jadi Sultan, dalam usia 19 tahun menggantikan sang ayah.

Bagaimana sifat Muhammad Al Fatih sehingga beliau mampu memetik keberhasilan dalam hidupnya dengan sangat efektif, merebut benteng Konstantinopel yang kokoh itu. “sifatnya tenang, berani, sabar menanggung penderitaan, tegas dalam membuat keputusan dan mempunyai kemampuan mengawasi diri (self control) yang luar biasa. Kemampuanya dalam memimpin dan mengatur pemerintahan sangat menonjol.”

Muhammad Al Fatih sangat tegas terhadap musuh. Namun, lembut qolbunya bagai selembar sutra dalam menghadapi rakyat yang dipimpinnya. Kebiasaan Sultan Muhammad Al Fatih, unik. Beliau selalu berkeliling di malam hari, memeriksa kondisi teman dan rakyatnya. Sengaja beliau berkeliling untuk memastikan agar rakyat dan kawan-kawanya menegakkan shalat malam dan qiyamullail.

Qiyamul lail, shalat tahajud, inilah senjata utama Muhammad Al Fatih dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusuk, ditegakkan setiap malam. Dengan pedang malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al Fatih. Sjarah mencatat Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun berhasil menggapai sukses besar, menerobos benteng Konstantinopel, setelah dikepung beberapa bulan maka takluklah Konstantinopel.
Suatu hari timbul soal ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota itu. “Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri ! lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri. Kemudian beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajiB lima waktu, silakan duduk!!” Subhanalloh……!!! Maha suci Allah ! tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari ini, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan shalat fardhu. Luar biasa…..!!!!!!

Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rowatib? kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasuka islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelu shubuh dan shalat rowatib lainaya. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam Al Fatih.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya Muammad Al Fatih kembali berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!!” apa yang terjadi…???? Terlukislah pemandangan yang menakjubkan sejarawan barat dan timur. Semua yang hadir dengan cepat duduk!! ”Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia???dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tak kosong semalampun.

Sejak abad kedelapan sahabat Rasulullah berusaha merebut benteng ini. Salah satunya Abu Ayyub Al Anshari namun gagal. Baru setelah enam abad kemudian benteng itu berhasil direbut dibawah pimpinan Muhammad Al Fatih.Karena jasanya inilah beliau diberi gelar Al Fatih (sang pembuka) yaitu membuka kota Byzantium yang dulunya adalah Konstantinopel. Beliau adalah seorang pemberani, ahli strategi militer, juga istiqomah dalam shalat tahajudnya.

Itulah sebuah kisah sejarah yang sungguh indah dalam bungkai ketakwaan kepada Allah SWT. Kisah Pedang Malam yang merupakan rahasia sukses dari seorang pribadi penggubah sejarah, bernama Muhammad Al Fatih, orang asia asal Turki, yang baru berusia 21 tahun. Shalat Tahajud merupakan modal yang sangat penting untuk membangun kekuatan ruhiyah dalam kesuksesan Al Fatih dikemudian hari. Sehingga islam jaya, berpendar-pendar cahayanya selama 500 tahun di bumi eropa sejak abad ke-15. Semuanya berasal dari Pedang Malam Al Fatih yang amat begitu luar biasa.

UKHUWAH ITU INDAH :D

Sungguh Allah Maha Penyayang dan mencintai hamba-Nya yang saling menyayangi karena-Nya. Ukhuwah, sebuah kata yang memiliki makna yang teramat dalam. Mengapa ada dua orang yang awalnya tak saling mengenal, namun sampai rela mengorbankan dirinya demi mendahulukan orang yang satunya lagi? Ya, semua itu karena mereka telah diikat oleh tali ukhuwah karena Allah SWT. Itulah indahnya Islam. Allah menjadikan kita orang-orang yang beriman sebagai saudara, sebagaimana Allah berfirman:

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat : 10)

Bagaimana Allah menjadikan kita sebagai saudara? Sedangkan pengertian utama saudara adalah orang yang seibu seayah (atau hanya seibu atau seayah saja); adik atau kakak (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Tentu Allah menjadikan kita saudara, karena Allah telah menyatukan hati kita:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal : 63)

Itulah yang benar-benar saya rasakan. Allah telah mempersatukan hati saya dengan saudara-saudara saya seperjuangan di jalan dakwah. Bukan berarti saya tidak bersaudara dengan orang-orang beriman di tempat lainnya, namun Allah telah mempertemukan saya dengan mereka dan menjadikan manisnya iman yang saya rasakan ketika bersama mereka. Siapapun muslim yang mukmin yang saya jumpai dimanapun saya berada, ia adalah saudara saya. Karena seperti itulah kata Allah dalam al-Qur’anul karim. Dan persaudaraan itu akan terasa lebih kental, ketika kita telah melalui tahapan-tahapan ukhuwah dalam kebersamaan kita dengan saudara kita.

1. Ta’aruuf
Ada pepatah mengatakan tak sayang karena tak kenal, tak kenal maka ta’aruuf (pepatah dengan perubahan seperlunya, hehehe). Saya rasa pepatah itu sangat amat benar adanya. Ta’aruuf atau dalam bahasa nasional kita disebut mengenal adalah tahapan awal kita dalam merajut ukhuwah. Saya masih ingat ketika awal dulu saya berjumpa saudara-saudara saya yang saat itu masih tergabung dalam suatu wadah ekstrakuriluler di suatu sekolah, kegiatan yang pertama kali kami lakukan adalah saling berkenalan. Dengan permainan ‘bola ta’aruuf’, kami saling bergantian untuk mengenalkan diri kami masing-masing dihadapan teman-teman yang lain. Memang kesannya sepele dan malu untuk melakukannya, tapi tak disangka tak dinyana, justru berkenalan adalah bagaikan suatu meriam peruntuh tembok pembatas antara kita dengan saudara kita. Dengan berkenalan, kita akan merasa lebih akrab dan lebih mudah untuk menyatu dengan saudara kita. Pernahkah anda merasakan sulitnya memulai obrolan hangat dengan orang yang belum anda kenal tanpa anda berusaha mengenalnya terlebih dahulu. Secara naluriah anda pasti membawa pembicaraan ke arah perkenalan terlebih dahulu, karena memang seperti itulah tahapannya.

Allah SWT berfirman :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Al-Hujurat : 13)

Jadi, saya teramat heran jika zaman sekarang ada orang-orang yang beranggapan bahwa ta’aruuf hanya salah satu tahapan menuju pernikahan yang islami. Memang benar, tapi itu adalah bagian kecil dari makna ta’aruuf yang jauh lebih luas dan lebih indah. Bukankah amat indah jika kita bisa mengenal saudara kita yang sebelumnya kita tak pernah menduga akan berjumpa dengannya, lalu menjalin ikatan persaudaraan karena Allah dengannya?
2. Tafahum
Tahapan kedua menuju indahnya ukhuwah tentunya setelah kita saling berkenalan, maka kita akan saling memahami (tafahum). Setelah berkenalan dan berkeseharian dengannya, tentu kita akan tahu apa makanan kesukaannya, kapan hari ulang tahunnya, apa yang tidak disukainya, dan banyak hal lagi tentang dirinya. Hal ini tentu akan semakin memperkuat ikatan kita dengannya. Jika kita tak bisa memahaminya, artinya kita belum lulus tahap sebelumnya. Kita perlu mengoreksi kekuatan ukhuwah kita dengannya. Jika kita masih sulit memahami si dia, artinya kita peru berkenalan lagi dengannya. Karena ta’aruuf yang baik akan memunculkan tafahum yang baik pula. Dengan saling memahami, maka kita akan lebih mudah menjaga perasaan. Misalnya ketika hari ulang tahunnya, lalu kita memberinya hadiah sebagai tanda cinta kita padanya karena Allah. Hal ini tentu akan menyentuh hatinya dan akan semakin memperkuat rasa ikatan persaudaraan antara kita dengannya. Dan tentu saja ini sudah termasuk buah manis dari ukhuwah. Dengan tafahum yang baik, kita akan mudah menyatukan hati (ta’alluf), menyatukan pikiran, menyatukan amal, saling menasihati (tanashuh) dan bersama menuju kebaikan.

Anas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda:

"Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (Shahih Muslim No. 64)

Demikianlah pentingnya tafahum (saling memahami), saling pengertian, guna memupuk persaudaraan dan rasa cinta kita dengan saudara kita atau sebaliknya tentu hanya karena Allah.
3. Ta’awun
Sungguh nikmat rasanya menjadi seorang muslim yang mukmin, memiliki banyak sekali saudara. Bayangkan, 1/4 jumlah penduduk dunia insyaallah mereka semua adalah saudara kita. Maka itu, setelah berkenalan, kemudian saling memahami, karena rasa cinta yang tumbuh antara kita yang dilandasi keimanan pada Allah lalu akan timbul sikap saling membantu (ta’awun).

Allah SWT berfirman :

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”(QS. Al-Maaidah : 2)

Saling membantu dan tolong menolong adalah sikap yang muncul dengan sendirinya ketika rasa ukhuwah telah terpatri dalam sanubari seorang mukmin. Ketika saudaranya mengalami kesulitan, maka ia akan dengan sedia membantu saudaranya itu dengan ikhlas. Tak peduli apapun yang dikorbankannya, yang menjadi fokusnya adalah saudaranya itu bisa terlepas dari himpitan masalah yang sedang dihadapinya. Saat ini banyak kita temui orang yang bersedia membantu, namun mengharap pamrih. Adapun yang tanpa pamrih, namun tak akan bertahan lama, ketika orang yang dibantunya itu tak juga keluar dari masalahnya sedangkan telah banyak pengorbanan yang ia lakukan, maka ia akan melarikan diri dari menolong orang tersebut. Hal ini terjadi karena memang tidak adanya ukhuwah yang terjalin diantara mereka. Sedangkan jika ukhuwah itu ada, maka ia pasti akan membantu saudaranya tanpa pamrih, dan hingga saudaranya itu benar-benar tuntas menyelesaikan masalahnya, karena ia memahami sabda Rasulullah saw. yang berarti :

“Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Begitulah Rasulullah memberi gambaran persaudaraan sesama muslim yang mukmin yang diikat dengan keimanan karena Allah, sungguh indah dan mulia.
4. Takafful
Seringnya kita berjumpa dengan saudara kita, bersama-sama berjuang, bersama-sama menghadapi cobaan, maka itu semua akan menimbulkan rasa senasib sepenanggungan (takafful). Rasa ini akan tumbuh, terutama setelah kita bersama-sama dengan saudara kita dalam menghadapi suatu masalah. Bersama tak hanya ketika senang, namun juga bersama ketika susah, inilah ciri-ciri kita telah ber-takafful dengan saudara kita. Sungguh anugerah luar biasa rasanya memiliki teman sejati, yang senantiasa hadir dalam hati kita baik ketika kita senang maupun susah. Ialah saudara kita yang telah diutus oleh Allah, untuk menguatkan kita agar tetap istiqomah dalam beriman pada-Nya.

5. I’tsar
Betapa indahnya persaudaraan karena Allah. Jika ia telah mencapai tahap tertinggi, maka inilah tahap tertinggi dalam indahnya ukhuwah, yakni I’tsar (mendahulukan). Hal ini telah dicontohkan oleh para shahabat Rasulullah saw. dan juga para kaum muhajirin dan anshar, sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Beginilah mulianya ukhuwah kronis yang menjangkiti kaum muhajirin dan kaum anshar. Mereka tak akan ridha sebelum saudara mereka mendapatkan hal yang sama layaknya dengan yang mereka inginkan. Bahkan jika hanya ada satu helai saja selimut, sementara ada dua orang dengan ukhuwah yang amat erat kedinginan didekatnya, maka mereka akan saling mendahulukan agar saudaranya itu saja yang memakai selimut. Bukankah ini adalah suatu perbuatan yang amat mulia?

Namun i’tsar ini perlu digarisbawahi bahwa ia hanya terbatas pada perbuatan muamalah saja. Sedangkan untuk perkara ibadah, maka i’tsar tidak berlaku, karena dalam perkara ibadah tentulah kita ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan). Sehingga tetap dalam perkara ibadah kita harus mendahulukan diri kita, sedangkan dalam perkara muamalah maka dahulukanlah saudara kita agar kita menjadi orang-orang yang beruntung.




Lalu mengapa kita harus ber-ukhuwah? Ternyata dengan menjalin ukhuwah, maka kita akan merasakan banyak sekali manfaat. Diantara manfaat ukhuwah yaitu :

1. Merasakan lezatnya iman
Manisnya ukhuwah akan berdampak pada manisnya iman. Kita akan merasakan betapa lezatnya ketaatan pada Allah karena kita memiliki teman sehati yang senantiasa menyokong kita dan bersama-sama menapaki jalan penuh onak dan duri. Segala ujian dan cobaan akan mampu kita hadapi karena kita telah bersama dan justru itu semua akan menjadi supplement penebal iman kita terhadap Allah SWT.

2. Mendapat naungan Allah di hari kiamat
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda :

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan / pertolongan Allah, pada hari yang tiada naungan kecuali naungan / pertolongan Allah SWT, yaitu :
Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah; Seseorang yang hatinya selalu ingat atau tertaut dengan mesjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah dan keduanya bertemu dan berpisah karena Allah; Seseorang laki laki ketika dirayu oleh wanita cantik dan kaya, lalu ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah (sehingga meninggalkan perbuatan tersebut); Seseorang yang mengeluarkan shodaqoh / sedekah secara sembunyi sembunyi sehingga tangan kirinya atau tetangganya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; Dan seseorang yang mengingat Allah di tempat yang sunyi dan kedua matanya mencucurkan airmata.”
 (HR. Bukhari – Muslim)

3. Mendapatkan tempat khusus di surga
Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.” (QS. Al-Hijr : 45-48)

Rasulullah SAW bersabda :

"Wahai manusia, dengarkanlah, pahamilah, dan ketahuilah bahwa Allah memiliki para hamba yang mereka itu bukan para Nabi atau Syuhada, akan tetapi para Nabi atau Syuhada ingin seperti mereka dikarenakan kedudukan mereka dan kedekatan mereka di sisi Allah."
Kemudian seorang Badui berkata, "Wahai Rasulullah, tolong jelaskan kepada kami sifat mereka." Rasulullah tersenyum mendengar ucapan orang Badui tersebut dan bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal dan asing, mereka tidak memiliki tali kekerabatan satu sama lain, mereka saling mencintai di jalan Allah dan menjadi satu barisan. Allah menyediakan mimbar-mimbar dari cahaya di hari kiamat, mereka duduk di atasnya, Allah menjadikan wajah dan pakaian mereka bercahaya. Manusia diliputi ketakutan pada hari kiamat namun mereka tidak takut. Mereka adalah wali-wali Allah, mereka tidak takut dan tidak bersedih hati." 
(HR. Ahmad, Abu Ya’la, Al Hakim).

Subhanallah, sungguh mulianya orang-orang yang menjadi saudara karena Allah SWT. Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menyelamatkan kami dari jurang neraka dengan menjadikan kami sebagai saudara, jagalah ikatan ukhuwah ini ya Allah, satukanlah hati kami selalu dalam keimanan. Sungguh kusayang saudaraku karena Allah, sungguh kusayang pada kalian semua karena Allah.

~M.T.Q~

sumber : kapandut.blogspot.com